Nah setelah baca email itu, sempat twit, dan ada info dari Nia salah satu sahabat di Circle Moms ttg seminar pengasuhan anak yang akan dibawakan oleh Ibu Elly Risman.
Tanpa pikir panjang, diskusi dengan si ayah, cek skedul, dan Alhamdulillah bs ikut 2 dari sesi yg diadakan, sebenarnya ingin ikut 3 sesi, tapi sesi 2 di bln maret tanggalnya bertepatan dengan jadwal training bunda dan ayah pun akan trip ke china di tgl itu.
Nah, pagi tadi kami menghadiri sesi seminar tentang Komunikasi Pengasuhan Anak yg dibawakan oleh Ibu Elly Risman, beliau adalah seorang praktisi pengasuhan anak yang sudah berjibaku sekitar 10 tahunan ttg ilmu parenting yang berkaitan dengan seks bebas di kalangan usia belia.
Berikut rangkuman dari seminar tsb:
Di awal seminar, bu Elly bertanya siapa yg dulunya sekolah jadi ibu dan jadi ayah? Tentu saja kami semua menjawab tidak ada :)
Dan setelah itu, bu Elly menjelaskan sedikit prolog knp sih seminar atau pelatihan yg berkaitan dengan pengasuhan anak itu diperlukan, ya karena itu td jadi ortu itu tidak ada sekolahnya. Dan setiap ortu harus mengerti tahapan perkembangan anak agar dapat melalui semua fase dengan proses yang baik, dan si anak tumbuh jadi anak yang punya kepribadian positif, mandiri, disiplin, dan taat pada Tuhannya.
Dan sebelum kita mendidik dan mengajari anak, sangat dianjurkan untuk melihat jauh ke dalam diri kita, artinya disini kita dituntut untuk kenal lebih dulu dengan diri kita, kenali kelebihan dan kekurangan diri kita, dan tanamkan baik2 untuk tidak mengulang kesalahan pengasuhan yang sama dengan apa yang dahulu dilakukan ortu kita di jamannya.
Karena mendidik anak sesuai jamannya adalah penting, agar si anak tumbuh sesuai dengan tuntutan zaman tentunya dengan sikap dan konsep diri yang kuat agar tidak terpengaruh hal2 yang negatif yang dapat menyebabkan si anak terjerumus kedalam hal2 yang tidak sesuai dengan norma agama
Konsep pengasuhan yang paling dasar adalah komunikasi atau bagaimana kita bicara, kita ngomong dengan anak kita. Ngomong terlihat mudah memang, karena setiap hari juga dalam berinteraksi dengan siapapun, kita ngomong.
Tetapi, bicara atau ngomong seperti apa yang harus kita lakukan terhadap anak kita didalam masa pertumbuhannya.
Ini aku ringkas aja yak, karena kalo mau dijelaskan satu persatu dari mulai fenomena2 yang terjadi sekarang ini dalam pengasuhan anak, bakalan panjang, huehehehehe
Menurut ibu Elly Risman Psi. berikut ini adalah cara2 yang dapat kita terapkan dalam pola pangasuhan anak berkaitan dengan cara bicara atau ngomong itu tadi:
1. Berbicara pada anak tidak dengan tergesa-gesa, buatlah perencanaan yang proper
Contoh sederhana yang diberikan beliau adalah: membuat plan makanan untuk 1 minggu, lakukan duduk bersama anak, kemudian tanyakan si anak untuk jadwal makanannya, mulai sarapan, makan siang, dan makan malam, masukkan semua dalam list, kemudian periksa stoknya di rumah, bila tidak ada, ajak anak berbelanja, jadi sekalian mengajarkan tanggung jawab, juga ada ilmu matematikanya saat berbelanja kita dpt mengajarkan ttg berat, jenis, kemasan si bahan makanan itu tadi.
*menurutku ini applicable untuk anak di usia mulai 3 tahun ya, karena Devan sudah bisa memilih ketika diajak ke supermarket.
Makin besar, dapat kita kasih jatah jajan, untuk belajar bertanggung jawab terhadap jatah tersebut, misal boleh meilih yg lain diluar list belanja, tetapi hanya Rp, 5rb, nah menurut ibu elly, biasanya si anak akan muter2 di supermarket untuk memilih2 mana saja makanan seharga 5rb, tetapi misal bs dapat banyak, hihihi, biasanya kan anak begitu ya, tetapi gpp walopun lama, kata Ibu Elly itu proses berfikir mereka, mengajarkan logika kepada mereka untuk membuat pilihan dan keputusan
Nah, ketika dalam seminggu anak misalnya ada yg tidak mematuhi pilihannya sendiri, kita harus konsisten untuk tidak mengikuti kemauannya, disitu anak belajar tanggung jawab terhadap keputusannya, dan belajar juga tentang konsekuensi
2. Kenali diri sendiri (look in) dan lawan bicara kita, begitupun ketika kita berbicara kepada anak
Menurut beliau, ini sangat penting, kita harus melihat dalam diri kita sendiri dulu, maksudnya apakah menurut kita sendiri, pola pengasuhan yang diajarkan oleh ortu kita dahulu menghasilkan pribadi yang percaya diri, bertanggung jawab, disiplin, positif.
Dalam hal ini, kami peserta seminar diminta menuliskan hal2 yang berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan kami. Ketika selesai, sebagian besar peserta seminar mengakui lebih sulit menuliskan kelebihan dibandingkan kekurangan.
Dari sini Ibu elly menyimpulkan, biasanya itu terjadi bila konsep diri si pribadi kurang, membuatnya tidak percaya diri.
Oleh karena itu, penting sekali untuk membuat konsep diri yang kuat, agar si anak menjadi pribadi yang percaya diri, bertanggung jawab, disiplin dan positif.
3. Ingatlah bahwa setiap individu adalah UNIK
Maksud disini, tidak baik kita membanding2kan anak dengan anak lain jika kita sedang berbicara dalam hal apapun juga, walopun sedang marah.
Membandin2kan anak dengana nak lain dapat membuat kepercayaan si anak pudar.
4. Pahami antara kebutuhan dan kemauan si anak adalah : BEDA
maksud disini, terkadang yang terjadi sehari2, kita suka memaksakan kehendak kita terhadap si anak.
contoh: kk / ade minum susu sekarang, padahal si anak hanya minta air putih misalnya.
Jadi berikan pilihan, dan biarkan si anak memilih dari pilihan yang kita berikan, kemudian hargai pilihannya, walopun misalnya pilihannya tidak sesuai dengan kita
Misal : memilih baju untuk pergi, memilih menu makanan ketika di resto, etc
5. Baca bahasa tubuh, karena itu tidak pernah berbohong dan bahasa tubuh berbicara lebih nyaring drpd kata-kata
Maksudnya, pahami anak dari bahasa tubuhnya, misal, pulang sekolah sedang kesal, tapi gak mau bicara kenapa dia kesal, pancing si anak dengan menanggapinya dengan bahasa perasaan. "kakak lagi kesal ya?", si kakak menjawab, nggak, "kok wajahnya sedih?", "lagi kesal dengan teman di sekolah?", "oh atau kakak lapar ya?", "atau dihukum di sekolah?"
Kemukakan dengan memancingnya dengan pertanyaan2 yang berkaitan dengan perasaanya yang tampak dari bahasa tubuhnya, sehingga si anak akan berbicara dan keluar semua yang dia rasakan.
6. Hindari kata-kata yang berisi 12 gaya bahasa yang salah
mengkritik, perintah, membandingkan, mencap (labelling), mengancam, meremehkan, menyalahkan, membohongi, menasehati, menghibur, menyindir, menganalisa
Karena dengan kata2 tersebut membuat konsep diri anak menjadi rendah
7. Masalah siapa, anak atau ortu?
Tentukan masalah siapa, anak atau ortu, bila memang mslh anak, biarkan anak belajar konsekuensinya, krn itu akan membuat anak berfikir, memilih, dan mengambil keputusan.
8. Mendengar aktif
Dengarkan secara aktif, dalam setiap situasi yg dihadapi anak, apalagi ketika dia sedang bersedih, krn pd dasarnya, saat dia sedih, dia hanya butuh untuk didengarkan dan diterima
9. Sampaikan pesan "SAYA"
Samapaikan pesan SAYA, untuk memberitahukan si anak, bahwa kita marah adalah sebab kelakuannya bukan dengan dirinya
Contoh: bunda marah sm kamu krn kamu tidak membereskan mainan, akibatnya rumah berantakan
Bukan dengan kata2, contoh: "kamu bandel siy, ga pernah dengar omongan bunda, kan bunda sudah berkali2 bilang untuk beresin mainan, nt bunda bilang ke ayaha ya kl kamu bandel"
Nah, itu tadi tips2 yang diberikan ibu Elly Risman bagaimana kita berkomunikasi dengan anak.
Berat banget ternyata, walopun cuma sekedar tentang ngomong, hehehehe
Tapi setelah ikutan seminar itu, Bunda sm Ayah kembali diskusi di mobil, dan sepakat merubah pelan2 apa yang sekarang masih susah di ubah dari gaya bahasa kami terhadap Devan.
Owyah, Bu Elly jg bilang, kita boleh marah, karena kalo nggak, ntar kena stroke, hihihi, tapi tentunya marah yang punya tujuan, bukan sekedar ngecap yang ujungnya asal marah dan mengeluarkan kata2 yang tidak sepatutnya didengar si anak yang dapat menyebabkan konsep dirinya terganggu.
Hmmm, jadi orangtua adalah tantangan tersendiri
Bismillah, semoga bisa mengaplikasikan semua yang baik dengan cara kita masing2 deh